5 Gadis Bijaksana dan 5 Gadis Bodoh

Kisah perumpamaan ini tentu sudah sering kita dengar, bahkan mungkin sejak kita masih kecil. Yang terbiasa datang sekolah minggu juga pasti sering dengar kisahnya, mungkin sampai didramakan. Kisah ini tercatat hanya di 1 kitab Injil, yaitu Matius 25:1-13 dan masuk ke bagian ‘Khotbah tentang Akhir Zaman’ (pasal 24 dan 25 di kitab Matius merupakan bagian ini).

Kisah ini menceritakan tentang gadis-gadis yang menantikan kedatangan sang mempelai. Mereka punya start yang sama, bahkan menuju ke tujuan yang sama yaitu perjamuan kawin sang mempelai. Kedua kelompok ini tidak terlihat bedanya hingga minyak mereka menipis. Di saat itulah gerombolan ini terpisah menjadi 2 kelompok, yaitu yang membawa cadangan minyak dan yang tidak.

Yang bijaksana membawa minyak cadangan dalam buli-buli, yang bodoh tidak. Kelompok yang bodoh kehabisan minyak sesaat sebelum sang mempelai yang dinanti datang, kemudian tertinggal dalam rombongan masuk karena mereka sedang pergi membeli minyak ketika pintu dibuka.

Seluruh orang Kristen menantikan kedatangan Sang Mempelai, yaitu Kristus Yesus. Perumpamaan ini menceritakan tentang masa penantian orang Kristen. Benar? Di perumpamaan ini tidak dibahas tentang apa yang terjadi pada gadis-gadis yang tidak menantikan sang mempelai bukan? Ya. Di akhir zaman, orang-orang Kristen akan terbagi menjadi 2 kelompok, yang ada dan siap ketika Sang Mempelai datang, dan yang tidak.

Yang manakah kita? Apa faktor yang menjadikan kita berada di kelompok yang bijaksana atau bodoh?

Jika kita baca baik-baik perikop tersebut, ada sesuatu yang aneh dan tidak lazim.

Matius 25:10-12

(10) Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. (11) Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! (12) Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Apakah kalian menemukan keanehan dari ayat di atas?

Bayangkan ini. Saya mengadakan pesta ulang tahun yang begitu eksklusif, sampai-sampai ketika acara dimulai pintu harus ditutup. Kemudian ada teman-teman saya yang telat datang karena harus membeli kado terlebih dahulu. Mereka mengetuk pintu dan meminta ijin untuk masuk. KALAUPUN saya begitu ketat dengan waktu dan berniat tidak mengijinkan mereka masuk karena keterlambatan mereka, saya akan menolak mereka dengan menjawab: “Maaf kalian tidak bisa masuk karena kalian datang terlambat. Pesta sudah dimulai.” Saya tidak akan menjawab: “Maaf kalian tidak bisa masuk. Saya tidak mengenal kalian.” Benar bukan?

Ayat 12 membuat saya merenungkan lebih dalam perumpamaan ini. Ternyata, gadis-gadis bodoh ini tidak diijinkan masuk bukan sekedar karena mereka tidak ada di sana ketika pintu dibuka! Tapi karena sang mempelai tidak mengenal mereka!

Dari 10 gadis ini, hanya 5 yang benar-benar mengenal dan dikenal sang mempelai. Itu sebabnya, tanpa disuruh pun, mereka mengerti bahwa mereka perlu membawa cadangan minyak. MEREKA MENYADARI BAHWA SANGAT PENTING UNTUK BERJAGA-JAGA.

Mengapa yang 5 lagi tidak demikian? Karena mereka memang tidak punya hubungan yang intim dengan sang mempelai. Bahkan sang mempelai berkata bahwa ia tidak mengenal mereka.

Apakah kita adalah orang-orang yang memiliki hubungan yang intim dengan Sang Mempelai, yaitu Kristus Yesus? Ketika hubungan kita intim dengan-Nya, kita sangat tahu betapa pentingnya berjaga-jaga, betapa pentingnya membiarkan pelita kita terus menyala. Kita tidak meremehkan ‘nyalanya pelita’ kita. Kita mempersiapkan yang terbaik untuk menyambut kedatangan-Nya.

Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya. –2 Timotius 4:8

Semua orang yang benar-benar merindukan kedatangan-Nya, memperoleh mahkota. Mereka yang merindukan kedatangan-Nya akan bersikap bijaksana menghabiskan hidup mereka. Mereka memandang Sang Mempelai begitu agung dan mulia. Tidak boleh ada pelita yang mati. Mungkin ini yang tidak terpikirkan oleh mereka yang ‘bodoh’, yang mungkin juga menantikan kedatangan-Nya, tapi tidak benar-benar merindukan-Nya.

Di kelompok manakah kita? Kita adalah kelompok yang bijaksana, yang memiliki hubungan yang intim dengan Sang Mempelai, yaitu Kristus Yesus. Ada amen? Yes!

Galatia 4:8-9

(8) Dahulu, ketika kamu tidak mengenal Allah, kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya bukan Allah. (9) Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?

Saat ini kita berada di posisi yang sama, yang menantikan kedatangan Sang Mempelai tersebut. Saya berdoa supaya semua dari kita mengakhiri pertandingan iman dalam hidup ini juga bersama-sama dalam kemenangan. Kita adalah kelompok yang bijaksana, yang mengenal dan dikenal Sang Mempelai, yang mempersiapkan diri dengan baik menyambut kedatangan-Nya, yang berjaga-jaga.

Kita tahu bahwa kedatangan-Nya sudah dekat. Kita tidak berbalik dan menjual iman kita untuk hal yang fana. Kita bertahan sampai pada kesudahannya. Pelita kita terus menyala, api tidak boleh padam. Semangat mengiring Yesus harus terus membara. Kesaksian harus terus mengalir.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s