Pemuridan yang Berarti

Saat kamu berkata, “Maukah kamu saya muridkan?”, kamu sesungguhnya sedang berkata, “Saya siap memberikan hidup saya untuk melayani kamu.” Ya, memuridkan bukanlah hal yang sepele. Ini bukan tentang merekrut orang masuk ke organisasi/kepanitiaan tertentu. Ini tentang persembahan hidup untuk mengerjakan apa yang menjadi kerinduan Allah, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa.

Pelayanan pemuridan tidak bertujuan untuk mendapatkan pujian, bukan juga untuk memamerkan bakat. Pelayanan pemuridan berada di tempat tersembunyi. Mereka yang memuridkan dengan motivasi salah akan menyerah di tengah jalan.

“Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” – Matius 20:28

Pelayanan pemuridan itu sulit, namun mudah. Sulit karena banyak penyangkalan diri, namun mudah karena Roh Kudus yang memberi kekuatan dan kesanggupan.

Perjuangan sebagai ibu rohani membawa saya semakin mengerti kasih ibu terhadap anak kandungnya. Teringat betapa nakal dan bodohnya saya ketika kecil. Beberapa kali saya dapati ibu saya menangis karena saya membangkang. Namun tidak pernah sekalipun ia lupa memberi saya makan. Di balik semua nasihatnya, seringkali saya merasa lebih tahu segalanya. Namun ibu saya tidak pernah menelantarkan saya. Dengan sabar ia mendidik dan mendewasakan saya.

Kira-kira seperti itulah juga yang terjadi dalam pemuridan. Seringkali semua pengorbanan yang kamu berikan untuk anak rohanimu, tidak dibalas seperti ekspektasimu. Tapi kamu tahu bahwa perjuanganmu masih harus berlanjut. Kamu yang mengenal anakmu, tidak akan menelantarkannya di pinggir jalan. Dengan sabar dan penuh iman, kamu akan mendidiknya sampai dewasa.

Seorang anak rohani saya, datang dengan kondisi tidak mengerti apa itu doa dan alasan melakukannya. Sudah 7 tahun sejak dia berhenti berdoa dan percaya adanya Tuhan. 7 tahun itu diisi dengan banyak hal: mabuk-mabukan, judi, merokok, main game online sampai menghabiskan belasan juta rupiah, bergabung dengan geng motor, menjual obat aborsi, sampai hampir membunuh ayahnya. Bahkan dia datang dengan banyak penyakit di tubuhnya (di paru-paru, lambung, otak, dan hampir seluruh tubuh). Jujur waktu mengetahuinya, saya speechless. Saya tidak pernah menyangka bertemu orang seperti ini, apalagi menginjilinya. Tapi saya tahu Tuhan sangat mengasihinya. Terbukti dengan dilembutkannya hati anak ini menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.

Sejak saat itu, dengan kasih karunia Tuhan, saya membimbingnya di dalam iman. Hidup saya jadi berubah memang. Hampir setiap hari saya harus bertemu dengan anak ini, ‘memisahkan’ dia dari lingkungan lamanya yang begitu mematikan. Seorang bayi yang baru dilahirkan tidak bisa ditinggalkan begitu saja bukan? Waktu yang tadinya bisa untuk istirahat atau jalan-jalan, kini tersita untuk memuridkan. Tapi saya tidak pernah menyesal. Sukacita memuridkan jauh lebih besar dibandingkan istirahat atau jalan-jalan.

Suatu ketika, di persekutuan doa, saya terpana melihat pekerjaan Tuhan. Anak ini, yang tadinya tidak mengerti apa itu doa, ternyata sedang begitu menikmati hadirat Tuhan di dalam doanya, menangis, dan bahkan berdoa untuk keselamatan orang-orang lain. Saya tidak bisa memejamkan mata saya ketika itu. Hanya memandangi anak ini sambil terus mengucap syukur kepada Tuhan. Tanpa disadari, penyakit di dalam tubuh anak ini juga perlahan sembuh. Dia tidak perlu lagi meminum belasan obat setiap harinya. Puji nama Tuhan! Ada kesembuhan di dalam hadirat-Nya.

Membimbing anak dengan latar belakang demikian memiliki tantangan tersendiri. Saya bersyukur karena titik dimana dia menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat membawanya kepada pertobatan demi pertobatan. Dia tidak lagi mabuk-mabukan, berjudi, main game online, dan sebagainya. Satu yang menjadi pergumulan kami saat itu, melepaskannya dari keterikatan akan rokok. Saya sebagai manusia inginnya instan. Saya ingin anak ini tidak keterikatan akan rokok lagi. Langsung, saat itu juga. Namun tidak demikian yang terjadi. Lalu, apakah saya akan menyerah? Tidak. Saya tidak menyerah. Bagian saya adalah terus membimbing dan mendidiknya. Saya percaya Tuhan sanggup berbuat apapun juga, termasuk melepaskan anak ini sepenuhnya dari keterikatan itu.

Sempat ada masa saya mengira persoalan ini sudah selesai. Namun, dengan tidak terduga, saya dapati dia sedang merokok di kejauhan, di tengah-tengah acara pelayanan kami. Sangat sedih hati saya. Tapi saya mau percaya pada Tuhan. Dia sanggup mengubah hati anak rohani saya. Saya bergumul dalam doa-doa pribadi saya, berpuasa untuk hidupnya.

Pekerjaan Tuhan memang sungguh ajaib ketika kita berserah penuh dan percaya pada-Nya. Suatu ketika, dia mendatangi saya dan menceritakan hal aneh yang dialaminya. Beberapa hari belakangan, dia merasa mual bahkan muntah ketika mencium bau asap rokok. Wow! Bisa ya orang yang dulunya merokok belasan batang dalam sehari jadi mual mencium asap rokok? Saat itu saya tahu, kuasa Roh Allah sungguh-sungguh nyata bekerja dalam hidupnya! Terjadilah seperti apa yang tertulis di:

“maka mereka sendiri akan merasa mual melihat kejahatan yang mereka lakukan dan melihat segala perbuatan mereka yang keji.” – Yehezkiel 6:9b

Pelayanan pemuridan membutuhkan campur tangan Allah. Dialah yang dapat mengubahkan hati manusia. Sempat saya memuridkan dengan kekuatan pribadi, namun semuanya ternyata sia-sia. Yang ada hanya perasaan lelah, kecewa, marah. Ketika pengandalan diri dilepaskan dan beralih pada pengandalan akan Allah, saya justru banyak melihat hal-hal ajaib terjadi. Membuat saya terpesona dan terkagum-kagum akan kebesaran-Nya. Dia terlebih rindu membawa jiwa-jiwa mendekat pada-Nya.

Saya bersyukur ada dalam pemuridan, bagaimana saya diperjuangkan oleh ibu rohani saya dan bagaimana saya memperjuangkan anak-anak rohani saya. Tuhan membawa saya semakin mengenal hati-Nya.

Generasi ini membutuhkan bapa dan ibu rohani. Kalau bapa dan ibu rohani tidak bangkit dan memuridkan mereka, maka dunialah yang akan memuridkan mereka dengan segala kegelapannya. Bisakah kamu bayangkan apa yang akan terjadi?

Tapi saya tahu Tuhan tidak akan membiarkannya terjadi. Bapa-bapa dan ibu-ibu rohani sedang dibangkitkan di tengah-tengah generasi ini. Hati-Nya semakin tercurah di antara umat-Nya.

Untuk para pemurid, jangan menyerah akan hidup anak-anakmu. Seperti Tuhan yang tidak menyerah akan hidupmu. Mereka yang dipercayakan Tuhan kepadamu adalah kepunyaan-Nya, kecintaan-Nya. Perjuangkan mereka dalam doa dan imanmu.

Untuk para murid, pandanglah pemuridmu. Mereka yang memberikan hidupnya untuk melayanimu. Kasihi mereka, doakan mereka. Milikilah hati yang tulus seperti mereka, yang memperjuangkan generasi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s